Pemeliharaan Adenium

09.07 Posted In , Edit This 0 Comments »

Bagaimanapun keindahan adenium tak bakal tampak bila tak dilakukan perawatan. Inilah sejumlah pemeliharaan yang rutin diterapkan pada adenium anda

A. Manfaat nutrisi

1. Unsur makro
2. Unsur mikro

B. Jenis-jenis pupuk dan sifatnya
1. Pupuk anorganik
2. Pupuk Organik

C. Metode Aplikasi
1. Tanaman bibit
2. Tanaman remaja
3. Fase generatif

A. MANFAAT NUTRISI

Setahun lalu , seorang konsumen membeli adenium di sebuah showroom di Semarang. Sosoknya amat mempesona. Setiap tangkai memunculkan bunga berwarna merah muda yang indah. Penampilan tanaman dianggap layak untuk mengungkapkan cinta Adenium seharga Rp 4.000.000 itu kemudian dipersembahkan kepada sang pujaan hati.

Tujuh bulan berselang , sang gadis mendatangi showroom itu. Ia mengungkapkan adenium pemberian kekasihnya kini merana. Penampilan tanaman itu berubah drastis. Yang tersisa hanya ranting gundul dan daun kuning di beberapa anakan cabang. Wajar bila bunga seperti mogok muncul. Diakuinya , ia memang tidak pernah memberi pupuk. Sesekali , ia menyiramkan air beras bila melihat media kering.

Pupuk ibarat makanan bagi tumbuhan. Ia diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Di alam , tanaman menyerap nutrisi dari dalam tanah dan udara. Sedangkan di dalam wadah , nutrisi harus dipasok dalam kurun waktu tertentu.

1. UNSUR MAKRO
Unsur hara makro berisi hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah banyak. Namun , tidak berarti jumlah yang diberikan tak terbatas. Ada ambang tertentu yang ditoleransi tanaman. Melebihi batas itu , tanaman mengalami keracunan yang bisa berlanjut hingga mati.
Ada 12 jenis unsur kimia yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Unsur itu adalah nitrogen (N) , fosfor (P) , kalium (K) , magnesium (Mg) , sulfur (S) , dan kalsium (Ca) , boron (B) , besi (Fe) , tembaga (Cu) , mangan (Mn) , seng (ZN) , dan molibdenum (Mo). Setiap unsur memiliki pengaruh penting dalam pertumbuhan tanaman.
Kebutuhan tanaman akan masing-masing unsur berlainan. Tergantung pada umur , jenis , dan lingkungan.

a. Nitrogen (N)
Nitrogen berperan dalam pembentukan sel , jaringan , dan organ tanaman. Ia berfungsi sebagai sebagai bahan sintetis klorofil , protein , dan asam amino. Karena itu kehadirannya dibutuhkan dalam jumlah besar , terutama saat pertumbuhan vegetatif. Bersama fosfor (P) , nitrogen digunakan untuk mengatur pertumbuhan tanaman secara keseluruhan.
Terdapat 2 bentuk nitrogen yakni amonium dan nitrat. Sejumlah penelitian membuktikan amonium sebaiknya tidak lebih dari 25% dari total konsentrasi nitrogen. Jika berlebihan , sosok tanaman bongsor tetapi rentan terhadap serangan penyakit. Nitrogen yang berasal dari amonium akan memperlambat pertumbuhan karena mengikat karbohidrat sehingga pasokan sedikit. Dengan demikian cadangan makanan sebagai modal berbunga juga minimal. Akibatnya tanaman tidak mampu berbunga. Seandainya yang dominan adalah nitrogen bentuk nitrat , maka sel-sel tanaman akan kompak dan kuat sehingga lebih tahan penyakit. Untuk mengetahui kandungan N dan bentuk nitrogen dari pupuk bisa dilihat dari kemasan

Gejala kekurangan
Tanaman yang kekurangan nitrogen dikenali dari daun bagian bawah. Daun itu menguning karena kekurangan klorofil. Lebih lanjut mengering dan rontok. Tulang-tulang di bawah permukaan daun muda tampak pucat. Pertumbuhan tanaman lambat , kerdil dan lemah. Produksi bunga dan biji rendah.

Kelebihan
Warna daun terlalu hijau , tanaman rimbun dengan daun. Proses pembuangan menjadi lama. Adenium bakal bersifat sekulen karena mengandung banyak air. Hal itu menyebebkan rentan serangan cendawan dan penyakit , dan mudah roboh. Produksi bunga menurun.

b. Fosfor (P)

Fosfor merupakan komponen penyusun beberapa enzim , protein , ATP , RNA , dan DNA. ATP penting untuk proses transfer energi , sedangkan RNA dan DNA menentukan sifat genetik tanaman. Unsur P juga berperan pada pertumbuhan benih , akar , bunga , dan buah. Dengan membaiknya struktur perakaran sehingga daya serap nutrisi pun lebih baik.
Bersama denga kalium , fosfor dipakai untuk merangsang pembungaan. Hal itu wajar sebab kebutuhan tanaman terhadap fosfor meningkat tinggi ketika tanaman akan berbunga.

Kekurangan
Dimulai dari daun tua menjadi keunguan cenderung kelabu. Tepi daun cokelat , tulang daun muda berwarna hijau gelap. Hangus , pertumbuhan daun kecil , kerdil , dan akhirnya rontok. Fase pertumbuhan lambat dan tanaman kerdil.

Kelebihan
Kelebihan P menyebabkan penyerapan unsur lain terutama unsur mikro seperti besi (Fe) , tembaga(Cu) , dan seng(Zn) terganggu. Namun gejalanya tidak terlihat secara fisik pada tanaman.

c. Kalium (K)
Kalium berperan sebagai pengatur proses fisiologi tanaman seperti fotosintetis , akumulasi , translokasi , transportasi karbohidrat , membuka menutupnya stomata , atau mengatur distribusi air dalam jaringan dan sel. Kekurangan unsur ini menyebabkan daun seperti terbakardan akhirnya gugur.
Unsur kalium berhubungan erat dengan kalsium dan magnesium. Ada sifat antagonisme antara kalium dan kalsium. Dan juga antara kalium dan magnesium. Sifat antagonisme ini menyebabkan kekalahan salah satu unsur untuk diserap tanaman jika komposisinya tidak seimbang. Unsur kalium diserap lebih cepat oleh tanaman dibandingkan kalsium dan magnesium. Jika unsur kalium berlebih gejalanya sama dengan kekurangan magnesium. Sebab , sifat antagonisme antara kalium dan magnesium lebih besar daripada sifat antagonisme antara kalium dan kalsium. Kendati demkian , pada beberapa kasus , kelebihan kalium gejalanya mirip tanaman kekurangan kalsium.

Kekurangan
Kekurangan K terlihat dari daun paling bawah yang kering atau ada bercak hangus. Bunga mudah rontok. Tepi daun 'hangus' , daun menggulung ke bawah , dan rentan terhadap serangan penyakit.

Kelebihan
Kelebihan K menyebabkan penyerapan Ca dan Mg terganggu. Pertumbuhan tanaman terhambat. sehingga tanaman mengalami defisiensi.

d. Magnesium (Mg)
Magnesium adalah aktivator yang berperan dalam transportasi energi beberapa enzim di dalam tanaman. Unsur ini sangat dominan keberadaannya di daun , terutama untuk ketersediaan klorofil. Jadi kecukupan magnesium sangat diperlukan untuk memperlancar proses fotosintesis. Unsur itu juga merupakan komponen inti pembentukan klorofil dan enzim di berbagai proses sintesis protein.
Kekurangan magnesium menyebabkan sejumlah unsur tidak terangkut karena energi yang tersedia sedikit. Yang terbawa hanyalah unsur berbobot 'ringan' seperti nitrogen. Akibatnya terbentuk sel-sel berukuran besar tetapi encer. Jaringan menjadi lemah dan jarak antarruas panjang. Ciri-ciri persis seperti gejala etiolasi-kekurangan cahaya pada tanaman.

Gejala Kekurangan
Muncul bercak-bercak kuningdi permukaan daun tua. Hal ini terjadi karena Mg diangkut ke daun muda. Daun tua menjadi lemahd dan akhirnya mudah terserang penyakit , terutama embun tepung (powdery mildew).

Kelebihan
Kelebihan Mg tidak menimbulkan gejala ekstrim.

e. Kalsium (Ca)
Unsur ini yang paling berperan adalah pertumbuhan sel. Ia komponen yang menguatkan , dan mengatur daya tembus , serta merawat dinding sel. Perannya sangat penting pada titik tumbuh akar. Bahkan bila terjadi defiensi Ca , pembentukan dan pertumbuhan akar terganggu , dan berakibat penyerapan hara terhambat. Ca berperan dalam proses pembelahan dan perpanjangan sel , dan mengatur distribusi hasil fotosintesis.

Kekurangan
Gejala kekurangan kalsium yaitu titik tumbuh lemah , terjadi perubahan bentuk daun , mengeriting , kecil , dan akhirnya rontok. Kalsium menyebabkan tanaman tinggi tetapi tidak kekar. Karena berefek langsung pada titik tumbuh maka kekurangan unsur ini menyebabkan produksi bunga terhambat. Bunga gugur juga efek kekurangan kalsium.

Kelebihan
Kelebihan kalsium tidak berefek banyak , hanya mempengaruhi pH tanah.


2. UNSUR MiKRO

Unsur mikro adalah unsur yang diperlukan tanaman dalam jumlah sedikit . Walaupun hanya diserap dalam jumlah kecil , tetapi amat penting untuk menunjang keberhasilan proses-proses dalam tumbuhan. Tanpa unsur mikro , bunga adenium tidak tampil prima. Bunga akan lunglai , dll. Unsur mikro itu , adalah: boron , besi , tembaga , mangan , seng , dan molibdenum.

a. Boron (B)
Boron memiliki kaitan erat dengan proses pembentukan , pembelahan dan diferensiasi , dan pembagian tugas sel. Hal ini terkait dengan perannya dalam sintetis RNA , bahan dasar pembentukan sel. Boron diangkut dari akar ke tajuk tanaman melalui pembuluh xylem. Di dalam tanah boron tersedia dalam jumlah terbatas dan mudah tercuci. Kekurangan boron paling sering dijumpai pada adenium. Cirinya mirip daun variegeta.

Kekurangan
Daun berwarna lebih gelap dibanding daun normal , tebal , dan mengkerut.

Kelebihan
Ujung daun kuning dan mengalami nekrosis

b. Tembaga(Cu)
Fungsi penting tembaga adalah aktivator dan membawa beberapa enzim. Dia juga berperan membantu kelancaran proses fotosintesis. Pembentuk klorofil , dan berperan dalam funsi reproduksi.

Kekurangan
Daun berwarna hijau kebiruan , tunas daun menguncup dan tumbuh kecil , pertumbuhan bunga terhambat.

Kelebihan
Tanaman tumbuh kerdil , percabangan terbatas , pembentukan akar terhambat , akar menebal dan berwarna gelap.


c. Seng(Zn)
Hampir mirip dengan Mn dan Mg , sengat berperan dalam aktivator enzim , pembentukan klorofil dan membantu proses fotosintesis. Kekurangan biasanya terjadi pada media yang sudah lama digunakan.

Kekurangan
Pertumbuhan lambat , jarak antar buku pendek , daun kerdil , mengkerut , atau menggulung di satu sisi lalu disusul dengan kerontokan. Bakal buah menguning , terbuka , dan akhirnya gugur. Buah pun akan lebih lemas dan sehingga buah yang seharusnya lurus membengkok.

kelebihan
Kelebihan seng tidak menunjukkan dampak nyata.

d. Besi (fe)
Besi berperan dalam proses pembentukan protein , sebagai katalisator pembentukan klorofil. Besi berperan sebagai pembawa elektron pada proses fotosintetis dan respirasi , sekaligus menjadi aktivator beberapa enzim. Unsur ini tidak mudah bergerak sehigga bila terjadi kekurangan sulit diperbaiki. Fe paling sering bertentanganatau antagonis dengan unsur mikro lain. Untuk mengurangi efek itu , maka Fe sering dibungkus dengan Kelat (chelate) seperti EDTA (Ethylene Diamine Tetra-acetic Acid). EDTA adalah suatu komponen organik yang bersifat menstabilkan ion metal. Adanya EDTA maka sifat antagonis Fe pada pH tinggi berkurang jauh. Di pasaran dijumpai dengan merek Fe-EDTA.

Kekurangan
Kekurangan besi ditunjukkan dengan gejala klorosis dan daun menguning atau nekrosa. Daun muda tampak putih karena kurang klorofil. Selain itu terjadi karena kerusakan akar. Jika adenium dikeluarkan dari potnya akan terlihat potongan-potongan akar yang mati.

Kelebihan
Pemberian pupuk dengan kandungan Fe tinggi menyebabkan nekrosis yang ditandai dengan munculnya bintik-bintik hitam pada daun.

f. Molibdenum(Mo):
Mo bertugas sebagai pembawa elektron untuk mengubah nitrat menjadi enzim. Unsur ini juga berperan dalam fiksasi nitrogen.

Kekurangan
Ditunjukkan dengan munculnya klorosis di daun tua , kemudian menjalar ke daun muda

Kelebihan
Kelebihan tidak menunjukkan gejala yang nyata pada adenium.

B. JENIS-JENIS PUPUK DAN SIFATNYA

Unsur-unsur yang dibutuhkan adenium dikemas oleh produsen menjadi pupuk dalam aneka dalam rupa dan bentuk. Dari segi bentuk pupuk dikemas dalam cairan , bubuk , tablet , kapsul , dan butiran. Sedangkan dari segi bahan baku dikenal istilah pupuk anorganik dan organik. Pupuk anorganik adalah pupuk yang dibuat dari bahan-bahan kimia. Organik , berasal dari bahan alam.

1. Pupuk anorganik
Secara umum ada dua jenis pupuk anorganik yang tersedia di pasaran: pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Pupuk tunggal dibuat dari satu unsur secara dominan. Contohnya Urea yang mengandung N , TSP atau SP 36 denganP , dan KCl atau ZK dengan unsur K yang dominan. Pupuk majemuk mengandung lebih dari satu jenis unsur. Misalnya DAP dan Amofos yang terbuat dari N dan P. Pupuk majemuk juga bisa tersusun dari 3 unsur. Sebut juga Rustica Yellow dan Mutiara. Kedua pupuk itu dilengkapi dengan kandungan N , P , dan K. Produsen pupuk biasanya jgua menambahkan unsur-unsur mikro seperti Fe , B , Mo , Mn , dan Cu.
Agar praktis , pekebun biasanya memakai pupuk majemuk. Umumnya di pasaran beredar pupuk dengan kandungan utama Nitrogen , fosfor , dan kalium dengan berbagai perbandingan. Besar kecilnya perbandingan itu dicantumkan di label kemasan. Tulisan 20:10:10 artinya kandungan nitrogen paling tinggi sehingga tepat digunakan untuk masa pertumbuhan.

2. Pupuk Organik

Pupuk organik sudah sejak lama digunakan orang. Munculnya tren 'kembali ke alam' mendorong munculnya pupuk organik yang diproses dan dikemas secara modern. Bahan baku pembuatannya bermacam-macam , antara lain dari guano , kotoran kelelawar yang sudah diproses , limbah tanaman , ikan , dan hewan. Beberapa jenis biota laut seperti alga , kerang juga diekstrak menjadi pupuk organik
Dewasa ini pupuk berlabel organik itu sudah dikemas modern dalam wadah tertutup. Bentuknya serupa dengan pupuk anorganik bisa berupa cairan , serbuk , atau butiran. Label berisi komposisi dan petunjuk pemakaian juga tertera di kemasan. Sebelum membeli dan memakai perhatikan kandungan nutrisinya.
Perlu diingat Pupuk tidak mencegah kedatangan hama dan penyakit. Untuk itu tetap diperlukan sejumlah insektisida atau fungisida tatkala patogen menyerang. Pemakaian pestisida dengan kandungan sama dalam waktu lama bisa menimbulkan resistensi. Cara yang lazim dipakai ialah memakai pestisida secara bergantian.
Penggunaan satu jenis pupuk dalam jangka panjang merugikan pertumbuhan tanaman. Sebab pupuk itu mengandung unsur tertentu seperti nitrogen , fosfor , dan kalium yang tinggi. Segera ganti dengan pupuk dengan ratio seimbang atau unsur lain yang lebih tinggi. Selain pupuk utama itu , juga dibarengi dengan berbagai 'suplemen'. Tujuannya tentu saja agar pertumbuhan tanaman kian bagus. Beberapa diantaranya , yaitu: Vitamin B1.
Vitamin B1 , salah satu zat untuk mempercepat pertumbuhan adenium , juga pemulihan "tenaga" usai pindah tanam. Vitamin itu termasuk kelompok fitohormon , yaitu suatu zat yang dalam jumlah kecil/sedikit mampu memacu pertumbuhan. Penggunaan vitamin B1 pada adenium diharapkan mampu mengatasi masalah lambatnya pertumbuhan tanaman.

a. minyak Ikan/Tepung Ikan
Pupuk ikan atau minyak ikan juga membantu pertumbuhan adenium dan memperkuat daya tahan tanaman. Penggunaannya diselang-seling dengan pupuk lain. Selain itu , aroma amis cukup mengganggu penciuman.

b. Konsentrat pekat
Konsentrat pekat merupakan bahan kimia biasa yang telah dipadukan oleh produsen untuk membantu pekebun yang ingin praktis. Ia mengandung semua unsur hara makro dan mikro yang diperlukan tanaman. Bahan ini biasa dipakai oleh pekebun hidroponik yang ingin praktis dalam pemupukan.
Pupuk disebut A&B mix itu diformulasi secara khusus sesuai dengan jenis dan fase pertumbuhan tanaman. Keistimewaan pupuk itu ialah selain mengandung unsur hara yang diperlukan tanaman , juga menggunakan bahan-bahan yang 100% larut dalam air. Karena itu cocok diaplikasikan pada tanaman secara irigasi semprot. Caar penggunaan juga sangat praktis dan dapat disimpan dalam waktu cukup lama.

Sumber : http://myadenium.com

Memperbanyak Adenium

08.58 Posted In , Edit This 0 Comments »

Untuk memperbanyak tanaman Adenium anda , yang dibutuhkan adalah ketelitian dan kesabaran. Tanpa dua hal ini perbanyakan adenium anda menjadi "mission impossible". Untuk mengembangbiakkan Adenium dilakukan dengan dua cara , yaitu generatif dan vegetatif. Perbanyakan secara generatif adalah perbanyakan melalui biji yang dihasilkan dari persilangan. Sementara perbanyakan vegetatif dilakukan melalui stek , cangkok , okulasi , sambung (grafting) , sisip , atau pemecahan akar. Anakan hasil perbanyakan vegetatif mewarisi sifat-sifat unggul induknya sedangkan perbanyakan secara generatif akan dihasilkan anakan yang berbeda dengan induknya , dimana umumnya hal inilah yang dicari para breeder untuk menghasilkan hibrida adenium baru dengan bunga beraneka warna dan karakter pohon yang bermacam-macam.
Hingga saat ini telah terdapat berbagai macam adenium hibrida yang dikembangkan oleh Nursery di Thailand , Taiwan , India , Amerika , dan tentu saja Indonesia. Belum lagi persilangan yang dilakukan oleh penghobby yang tersebar dimana-mana , yang melakukan persilangan baik dari sekedar coba-coba ataupun secara serius. Sehingga untuk saat ini dapat kita jumpai bunga seperti lirik lagu Group Band Padi - " Semua tak sama , tak pernah sama tapi mirip-mirip".

Hal yang perlu diperhatikan dari pebanyakan adenium hasil persilangan adalah sangat tidak layak kalau mengatakan biji hasil persilangan dengan nama induknya. Akan lebih baik mengklasifikasikannya hanya berdasarkan warna bunga ataupun karakter dominan lainnya. Karena untuk pemuliabiakkan tanaman membutuhkan metode dan prosedur standar , sampai pada tahapan hasil persilangannya dapat diklaim sama dengan induknya dan stabil yang akan menghasilkan anakan yang relatif sama dengan induknya

A. MEMPERBANYAK DENGAN BIJI
Memperbanyak Adenium dengan cara Generatif (penyerbukan) dapat dihasilkan dengan melalui persilangan alam (dengan bantuan serangga) ataupun dengan Penyilangan sendiri (Hand Polynation) Penyerbukan melalui bantuan serangga terjadi karenaSaat hinggap di bunga secara tidak sengaja , kaki lebah menyentuh benang sari , lalu ketika serangga tadi berpindah ke bunga lain serbuk sari (polen) menempel pada putik bunga lainsehingga terjadilah penyerbukan. Jika penyerbukan berhasil maka bakal buah akan membesar san berkembang menjadi buah. Penyerbukan secara alami tidak dapat dikontrol , bibit yang dihasilkan tidak dapat diprediksikan hasilnya / random. Untuk dapat menghasilkan bibit yang baik , yang mewarisi sifat unggul induknya (pertumbuhan cepat , memiliki bentuk bunga dan warna bunga yang baik , berbunga kompak) maka dilakukan dengan melakukan penyerbukan buatan.
Buah adenium berbentuk panjang dan terdiri dari dua buah. Setelah dua bulan kemudian , buah adenium akan matang. Menjelang buah matang ditandai warna buah hijau kecokelatan. Pada saat itu , buah sebaiknya diikat dengan tali. Pengikatan bertujuan agar biji-biji yang berumbai tidak beterbangan saat buah matang dan pecah. Saat buah matang , biji dipanen dan siap untuk ditanam.

B. MEMPERBANYAK DENGAN STEK
Dari jaman dahulu sejak kita mengenal Adenium , sangat lumrah dimana-mana untuk memperbanyak adenium dengan dengan setek. Umumnya penyetekan dilakukan setelah dilakukan pemangkasan pada pohon induk. Untuk Penyetekan perlu dieprhatikan bahan setek dipilih dari induk yang sehat dan cukup tua. Cirinya batang berukuran besar , sehat , dan berdiameter minimal 2 cm. Batang yang terlalu kecil dan muda mempunyai tingkat resiko kegagalan yang cukup besar. Setek jangan diambil dari batang utama karena sulit bertunas. Tahapan perbanyakan dengan setek dijelaskan sebagai berikut:

1. Potong batang sepanjang 10-15 cm. Sisakan 2-3 helai daun untuk mengurangi penguapan. Gunakan pisau yang tajam dan steril agar tanaman tidak terinfeksi.
2. Setelah dipotong , kering anginkan batang ditempat yang teduh selama 1-2 jam agar luka bekas pemotongan kering. Bahan setek tersebut tidak boleh terkena air dan sinar matahari langsung.
3. Celupkan bagian yang terpotong dengan zat perangsang akar , lalu kering anginkan dengan selama 1-2 jam. Setelah itu , tancapkan batang setek pada media tanam sedalam 4-5 cm.
4. Siram air secukupnya secara merata. Selanjutnya , letakkan tanaman di tempat teduh dengan intensitas cahaya matahari rendah , sekitar 60-70%.

Setelah 6-7 hari , tanaman dapat dipindahkan ke lokasi yang lebih panas. Pada saat itu , tanaman mulai segar. Jika 12-14 hari kemudian tanaman belum mengeluarkan tunas dan batang terlihat kurus mk perbanyakan dengan setek dianggap gagal. Pekebun di Indonesia jarang menggunakan cara setek untuk memperbanyak tanaman karena relatif sulit dan membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan bonggol.

C. MEMPERBANYAK DENGAN SAMBUNG
Perbanyakan dengan sambung atau grafting paling banyak dilakukan oleh pekebun adenium. Cara grafting dilakukan dengan menggabungkan batang bawah dan batang atas dari jenis tanaman yang berbeda. Keunggulan cara ini adalah dihasilkan tanaman yang lebih unggul dibandingkan dengan induknya karena diambil dari jenis yang berbeda. Selain itu , cara ini lebih cepat dan tingkat kegagalannya rendah. Teknik Grafting / Sambung dijelaskan pada bagaimana menggrafting adenium.

Sumber : http://myadenium.com

Budidaya Aglaonema

15.24 Posted In , Edit This 0 Comments »

Aglaonema disebut juga;Sri Rejeki atau Chinese Evergreen merupakan tanaman dari family Araceae. Genus Aglaonema terdiri dari sekitar 30 spesies. Habitat asli tanaman ini adalah di bawah hutan hujan tropis, tumbuh baik pada areal dengan intensitas penyinaran rendah dan kelembaban tinggi. Kini berbagai macam aglaonema hybrida telah dikembangkan, memiliki penampilan tanaman yang sangat menarik. Hybrida dari bermacam warna, bentuk, ukuran daun sehingga jauh berbeda dari spesies alami.


SIFAT TANAMAN, SYARAT TUMBUH


Sifat dari tanaman aglaonema beragam, ada yang dapat terkena sinar matahari dan ada juga yang harus ternaungi, sebagian aglaonema dapat hidup di tempat lembab dan sebagian lagi di tempat sedikit kering, tanaman aglaonema tergolong bandel, mudah dirawat dan cocok dijadikan

tanaman indoor, apalagi aglaonema terkenal dengan motif daunnya yang indah. Syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan pertumbuhan aglaonema yang optimal adalah lokasi, cahaya, kelembaban dan suhu.

Lokasi yang ideal untuk merawat aglaonema adalah daerah yang berketinggian 300 - 400 m diatas permukaan laut,namun tidak menutup kemungkinan juga dapat tumbuh baik di dataran rendah, sesuai habitatnya aglaonema menyukai lokasi yang teduh dengan pencahayaan terbatas, intensitas

sinar matahari berkisar antara 10 - 30%, kelembaban yang cocok untuk merawat aglaonema adalah 50 – 70%, di kisaran itu tanaman tumbuh baik, lebih dari 75% dapat menyebabkan tumbuhnya cendawan pada media tanam, selain itu juga suhu menunjang pertumbuhan, lokasi sebaiknya bersuhu 28 - 30 C pada siang hari dan 20 - 22 C malam hari dan dibantu juga dengan sirkulasi udara yang baik.


MEDIA TANAM


Untuk memiliki tanaman aglaonema yang tumbuh sehat dan baik diantaranya adalah dengan menggunakan media dengan komposisi yang pas, media dengan tingkat keasaman/pH dan porositas (Porous) yang ideal sangat baik untuk pertumbuhan aglaonema, media tanam aglaonema juga harus steril, yaitun bebas dari penyakit, tidak mudah lapuk dan hancur karena air, mudah diperoleh

dan harganya terjangkau, aglaonema dapat tumbuh dengan baik pada media dengan pH 7 atau disebut juga pH netral yang kaya akan zat hara, angka pH dengan selisih 0,5 - 1 masih dianggap pH ideal. Porous artinya mudah mengeluarkan kelebihan air, tingkat porositas yang dibutuhkan pada media tanam sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, yaitu ketinggian dan kelembaban, pada

dataran rendah yang panas dan bercurah hujan rendah, media tanam sebaiknya harus bisa menahan air sehingga media tidak kekeringan, sebaliknya di dataran tinggi yang umumnya sering hujan sebaiknya gunakan media dengan porositas tinggi agar kelebihan air mudah dikeluarkan. Berikut macam jenis unsur yang digunakan untuk media tanam aglaonema, yang tentunya dengan tingkat porositas yang berbeda dengan kekurangan kelebihan masing-masing, kombinasi beberapa unsur media dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan dan faktor lingkungan :


1. Pakis,sekam bakar, Pasir malang,humus (1;1;1;1)

2. Pakis,pasir malang,sekam bakar, cocopeat (2;1;1;1)

3. Pakis,sekam bakar, pasir malang, cocopeat (2;1;1;1)

4. Cocopeat,sekam bakar kompos organik (5;3;2)

5. Pakis,pasir malang, kaliandra (3;2;1)


Jenis unsur media tanam


- Pakis

pakis dapat menyimpan air dengan baik dan memiliki drainase dan aerasi yang bagus, akar dapat menyerap air dengan mudah dan leluasa untuk berkembang, tidak mudah lapuk dan memiliki daya tahan cukup tinggi


- Sekam Bakar ;

sekam bakar memiliki kelebihan unsur yang terletak pada sifatnya yang steril dan daya tahanya mencapai 1 tahun, aerasinya cukup baik namun daya

serapnya terhadap air kurang baik, sehingga harus dicampur dengan unsur yang dapat menyerap air


- Pasir malang ;

pasir malang unsur media yang tingkat porositasnya

cukup baik, karena itu penggunaanya digunakan untuk mencegah media yang terlalu basah dan air yang menggenang


- Cocopeat

cocopeat adalah sabut kelapa hasil olahan, unsur ini sangat cocok digunakan bila menginginkan media yang cukup lembab untuk aglaonema khususnya di daerah yang kering dan panas, cocopeat

dapat menahan air cukup lama dalam jumlah yang banyak, namun sifatnya mudah lapuk


- Kaliandra

kaliandra cocok digunakan sebagai media di daerah kering dan panas, media ini cenderung cepat lembab sehingga rawan terjangkit cendewan pengganggu, sifatnya mudah lapuk dan hanya bertahan 4 – 6 bulan


PENYIRAMAN


Aglaonema termasuk tanaman yang butuh air dalam

jumlah cukup, jadi penyiraman hal penting yang mesti diperhatikan agar aglaonema tumbuh baik, tapi tidak sampai menggenangi medianya, frekuensi dan dosis penyiraman perlu diatur sesuai dengan kondisi media dan lingkungan setempat.


PEMUPUKAN

Untuk menunjang pertumbuhan tanaman aglaonema kebutuhan nutrisi sangat penting, beragam merek pupuk majemuk/anorganik mudah diperoleh, bahkan saat ini sudah banyak beredar pupuk khusus aglaonema. Sebelum memilih, cermati dulu komposisi nutrisi dan penggunaanya, barulah cara dan

dosis pemberiannya, pemberian pupuk dengan dosis rendah, tetapi sering diberikan akan menghasilkan tanaman kualitas baik dibanding dengan pemberian sesekali dengan dosis tinggi


MENGGANTI MEDIA TANAM/REPOTTING

Untuk menjaga agar kualitas aglaonema tetap baik perlu dilakukan penggantian media tanam, media tanam yang baik akan membuat aglaonema tumbuh dengan sehat, penggantian media tanam/repotting aglaonema dilakukan setiap 6-12 bulan sekali, repotting juga dibutuhkan oleh tanaman yang sudah terlalu besar sehingga tidak sebanding lagi dengan ukuran pot


HAMA DAN PENYAKIT


Hama adalah hewan pengganggu tanaman yang secara fisik masih dapat dilihat secara kasat mata tanpa bantuan alat. Hama pada aglaonema bermacam-macam dan gejalanya berbeda-beda diantaranya ;


1) Ulat

Hama ulat ada yang menyerang daun, yaitu spodoptera sp dan ada juga yang menyerang batang, yaitu Noctuidae


2) Kutu putih (kutu kebul)

kutu ini sering menyerang aglaonema di dataran rendah dibanding di dataran tinggi. Kutu putih menyerang batang dan daun bagian bawah, kutu tersebut mengisap cairan daun dan meninggalkan jelaga pada daun


3) Belalang

belalang menyerang tanaman aglaonema sama hal nya dengan ulat, yaitu menyerang daun

4) Kutu sisik

Hama ini menyerang daun, pelepah, batang dan bunga, bentuknya seperti lintah dengan ukuran yang lebih kecil, kutu sisik ini dapat menyebabkan daun mengerut,

kuning, layu dan akhirnya mati


5) Kutu Perisai kutu ini menyerang bagian daun, kutu ini biasanya terdapat koloni dengan membentuk barisan di bagian tulang daun, kutu ini memiliki bentuk seperti perisai pada bagian punggungnya


6) Root mealy bugs menyerang bagian akar tanaman, bentuknya seperti kutu putih, tanaman menjadi kurus, kerdil, daunya mengecil dan layu

Penyakit penyakit pada tanaman khususnya aglaonema disebabkan oleh 2 patogen, yaitu cendawan dan bakteri. Jumlah cendawan yang menyebabkan penyakit pada umumnya lebih banyak dibanding bakteri, berikut penyakit yang biasanya menyerang aglaonema


1. Layu fusarium, gejala serangan ditandai dengan tulang daun yang pucat berubah warna menjadi coklat keabuan lalu tanggkainya membusuk, penyebabnya adalah media yang

selalu basah sehingga media tanam ber-pH rendah, yang kondisi tersebut membuat Fusarium oxysporium leluasa berkembang.


2. Layu Bakteri, ditandai dengan daun dan batang yang melunak serta bau yang tak sedap


3. Busuk Akar, ditandai dengan daun yang menjadi pucat lalu busuk, batang yang berlubang dan layu, akarnya berwarna coklat kehitaman, yang disebabkan media terlalu lembab sehingga menyebabkan cendawan cepat berkembang.


4. Bercak daun, yang disebabkan oleh cendawan, penyakit ini ditandai dengan adanya bercak pada daun yang lama kelamaan membusuk.


5. Virus, pada aglaonema ditandai dengan daun yang berubah menjadi kekuningan atau menjadi keriting, perubahan tersebut karena virus dapat menghancurkan klorofil dan jaringan lainnya pada daun, virus susah ditanggulangi, perawatan dan pengendalian lingkungan yang baik merupakan cara pencegahan yang paling efektif.


MEMPERBANYAK AGLAONEMA

Aglaonema bisa diperbanyak melalui 2 cara, yaitu generatif (kawin) dilakukan dengan cara menanam biji sedangkan vegetatif (tidak kawin) dilakukan melalui stek, pemisahan anakan, cangkok, dan kultur jaringan.


Sumber : http://www.bbpp-lembang.info

Budidaya Anthurium

14.38 Posted In , Edit This 0 Comments »
anthurium
Sebuah Anthurium yang tingginya mencapai lebih dari 3 meter
Di alam anthurium mudah tumbuh pada media batang pepohonan yang telah membusuk atau tumbuh di pepohonan dan bersifat epifit. Oleh karenanya pembudidayaan tanaman ini tidaklah sulit.Meskipun pembudidayaan tanaman relatif mudah namun cara pembudidayaan yang baik perlu dikuasai agar tanaman yang dibudidayakan dapat tumbuh baik sehingga mampu menampilkan keindahan yang prima. Untuk hal itu maka perlu pemahaman tentang morfologi tanaman, syarat tumbuh, media tanaman, penanaman, cara perawatan dan pengendalian hama penyakit.

SYARAT TUMBUH

Kebutuhan Cahaya Untuk mendapatkan cahaya yang sesuai, pembudidayaan yang dilakukan pada daerah dataran rendah membutuhkan bangunan dengan atap naungan paranet 60-70%. Untuk dataran sedang menggunakan naungan paranet 50%. Sedang untuk dataran tinggi cukup digunakan atap paranet 25%. Jika cahaya terlalu banyak, daun akan menguning dan kering, sebaliknya bila cahaya kurang daun nampak lemas dan pucat, serta daun dan tangkainya cenderung memanjang. Kebutuhan Suhu Suhu lingkungan yang optimal berkisar antara 18º-31º C. penampilan daun akan lebih mengkilap bilaman a perbedaan suhu siang dan malam tidak terlalu mencolok. Kondisi ini akan membantu membentuknya klorofil sehingga warna daun menjadi lebih hijau dan mengkilap. Untuk hal itu maka bilamana suhu siang terlalu tinggi, pada lingkungan pertanaman perlu ditambah kipas angin untuk menurunkan suhu. Kebutuhan Kelembaban Kelembaban udara yang cocok untuk pertumbuhan si raja daun ini berkisar antara 60%-80%. Bilamana kelembaban udara terlalu kering maka perlu penyemprotan air di sekitar tanaman. Sebaliknya bila terlalu lembab perlu dipasang kipas angin. Sirkulasi Udara Angin semilir akan memberikan kondisi yang baik bagi tanaman, karena dengan adanya angin yang bertiup perlahan akan membuat hawa yang sejuk. Oleh karena itu peranan kipas angin yang dipasang di lingkungan pertanaman akan berperan ganda, yakni menyejukan udara, menjaga kelembaban udara dan menjaga suhu udara. MORFOLOGI TANAMAN Anthurium termasuk keluarga Araceae yang mempunyai perakaran yang banyak, batang dan daun yang kokoh, serta bunga berbentuk ekor.

ImageAKAR
Anthurium yang sehat mempunyai jumlah akar yang banyak, berwarna putih dan menyebar ke segala arah. Oleh sebab itu membutuhkan media yang porous.
ImageBATANG
Batang Anthurium tidak nampak karena terbenam di dalam media. Setelah tanaman dewasa batang ini akan membesar menjadi bonggol.
ImageDAUN
Daun Anthurium pada umumnya tebal dan kaku, bentuknya bervariasi seperti berbentuk jantung, lonjong, lancip, dan memanjang. Untuk Anthurium daun, kekompakan bentuk daun meningkatkan nilai estetikanya.
ImageBUNGA
Anthurium mempunyai bunga berumah satu artinya dalam satu bunga terkandung sel kelamin betina dan sel kelamin jantan. Bunga terdiri dari tangkai, mahkota, dan tongkol. Semua bagian bunga tersebut menjadi satu kesatuan dan berbentuk seperti ekor, sehingga Anthurium dikenal dengan si bunga ekor. Putik dan tepung sari menempel pada tongkol. Masaknya putik dan tepung sari tidak bersamaan (dichogamaous). Pada umumnya putik masak lebih awal dibanding tepung sari.
ImageBUAH DAN BIJI
Buah berbentuk bulat dan menempel pada tongkol, buah muda berwarna hijau setelah masak berwarna merah. Biji yang telah masak akan terlepas dari tongkolnya, biji inilah yang baik untuk disemai. Bibit yang dihasilkan dari biji, umumnya mempunyai sifat yang berbeda dari induknya.

PEMELIHARAAN & PERAWATAN

ImageUntuk mendapatkan tanaman yang prima maka kita harus memelihara dan merawatnya sebaik mungkin. Pemeliharaan dan perawatan yang harus dilakukan meliputi penyiraman, pemupukan da membersihkan daun dari debu dan kotoran yang menempel serta memotong daun yang menguning. Di smping itu kegiatan pemeliharaan yang tidak terlupakan adalah repotting. Repotting merupakan kegiatan penggantian pot dan sekaligus media karena ukuran tanaman dan potnya sudah tidak sesuai lagi. Langkah-langkah repotting seperti langkah-langkah yang dilakukan pada penanaman. Namun yang perlu diperhatikan dalam repotting ini adalah memotong dan membersihkan akar-akar yang busuk dan mengatur perakaran pada media dan pot yang baru. Pengaturan perakaran ini dimaksudkan agar semua bagian akar dapat kontak langsung dengan media. Jangan sampai akar tidak menempel pada mediaImage (ada rongga antara media dan akar) karena hal ini akan menyebabkan membusuknya akar dan akibatnya tanaman akan menjadi tidak sehat. Pengairan dilakukan dengan alat semprot dan dikenakan keseluruh bagian tanaman dilakukan 2-3 hari sekali dengan melihat kondisi media. Media dijaga agar tidak terlalu lembab dan tidak terlalu kering. Pupuk yang diberikan sebaiknya pupuk majemuk (N, P dan K) yang penyediaannya lambat (slow riliaze) diberikan 2-3 bulan sekali dengan dosis sesuai anjuran dan besarnya tanaman. Di samping itu juga perlu ditambahkan pupuk daun yang diberikan setipa 1-2 minggu sekali. Untuk menjaga penampilan agar daun tampil bersih dan mengkilap maka daun yang ada perlu dibersihkan dengan lap yang lembut yang telah dibasahi dengan air. Daun-daun yang telah tua dan menguning perlu dipotong.

(dikutip dari ; dunia flora)

http://rawabelong.com

Tehnik Penyerbukan Silang dan Pembibitan Anthurium

14.18 Posted In , Edit This 0 Comments »
anthuriumNama anthurium berasal dari bahasa Yunani, artinya bunga ekor. Di Indonesia, tanaman ini dikenal sebagai anthurium. Sumber genetiknya berasal dari benua Amerika yang beriklim tropis.
Namun pengembangannya relatif berhasil di negara yang beriklim subtropis seperti Hawaii, dan di negara yang beriklim temperate seperti Belanda. Anthurium merupakan tanaman yang tumbuh sendiri pada media tumbuhnya (terrestrial), tetapi ada pula yang hidup menempel pada tanaman lain atau epifit (Riffle 1998).


Di Indonesia anthurium dapat beradaptasi dengan baik, mulai dataran rendah sampai tinggi. Pada ketinggian 1.400 m dpl, tanaman ini membutuhkan intensitas cahaya matahari antara 30-60%. Bila intensitas cahaya terlalu tinggi, maka tanaman akan menguning dan warna daunnya memudar. Sebaliknya bila intensitas cahaya terlalu rendah, maka per- tumbuhan tanaman menjadi lambat, produktivitas bunga menurun, dan batang menjadi lunak.

Budi daya anthurium berkembang pesat di Indonesia, terutama di sentra produksi tanaman hias Jawa Barat (Lembang Bandung, Sukabumi, Cianjur, dan Bogor), Jawa Tengah (Ungaran, Bandungan, dan Semarang), Jawa Timur (Batu Malang, Tlekung, dan Pasuruan), serta Sumatera Utara khususnya daerah Brastagi (Rukmana 1997). Pembudidaya- annya menggunakan paranet sebagai naungan, dan yang paling baik adalah yang memiliki 70% daya serap sinar matahari. Suhu yang diperlukan tanaman ini berkisar antara l8-200C pada malam hari, dan 27 -30°C pada siang hari, dengan kelembapan 50-90% (Rosario 1991).

Perbanyakan anthurium dapat dilakukan dengan cara generatif (biji) maupun vegetatif (pemecahan anakan atau setek). Penyerbukan sendiri (selfpollnation) jarang terjadi sehingga harus dilakukan penyerbukan silang (cross pollination) secara buatan. Teknik ini merupakan cara per- banyakan generatif yang paling tepat, terutama dalam ke- giatan pemuliaan untuk menghasilkan biji Fl hibrida, yang selanjutnya merupakan langkah untuk melahirkanjenis baru yang lebih bervariasi.

Persilangan buatan akan berhasil bila diperhatikan faktor-faktor berikut ini: (1) induk silangan yang akan di- gunakan, (2) metode, dan (3) waktu penyilangan. Dengan melakukan seleksi tetua yang unggul sebagai induk silang- an akan diperoleh bibit yang baik dengan keunggulan yang diturunkan dari induknya.

Tujuan percobaan ini adalah untuk mendapatkan hasil silangan anthurium dengan variasi yang lebih baik. Diharap- kan hasil silangan tersebut dapat menambah keaneka- ragaman hayati serta nilai ekonomis tanaman tersebut.


BAHAN DAN METODE

Bahan yang digunakan adalah beberapa tanaman anthurium yang jenisnya berbeda. Sebagai tetua betina adalah jenis Sunset, Champion, Midori, Lady Jane Orange, Aromatic, Lady Jane Ungu, dan Obake Putih, dan untuk tetua jantan adalah Laura, Sunset, Pink Exotic, Hawaiian Butterfly, Lady Jane Merah, Midori dan Merah Ati. Media yang digunakan untuk perkecambahan biji adalah arang sekam, dan untuk komuniti pot atau kompot yaitu arang sekam ditambah kompos bambu halus dengan perbandingan 1 : 1. Alat yang digunakan adalah kuas kecil, cawan petri, pot dan juga kompot atau bak plastik ukuran 45 cm x 35 cm, kertas label, dan kantong plastik.

Penyerbukan silang anthurium secara buatan dilaksana- kan di rumah kaca Segunung, Balai Penelitian Tanaman Hias, mulai Juli 2003 hingga Juni 2004. Lokasi berada pada ke- tinggian 1.100 m dpl dengan suhu 24-26°C pada siang hari dan l8-20°C pada malam hari serta kelembapan nisbi (Rh) 70- 90%.

Metode persilangan yang dilakukan adalah persilangan antarspesies dari Anthurium andreanum. Sebelum penyi- langan, dilakukan pemilihan atau seleksi tetua silangan, baik tetua jantan maupun tetua betina. Dari setiap pasang per- silangan dipilih masing-masing satu tangkai bunga yang terbaik. Untuk anthurium pot, tetua yang digunakan adalah tanaman yang berukuran kecil dengan daun atau bunga yang indah. Untuk menghasilkan anthurium bunga potong, dipilih tetua yang mempunyai bunga indah, sering berbunga, tangkai bunga yang panjang dan kokoh, serta warna bunga yang bervariasi.

Selanjutnya, dipilih bunga betina yang sudah siap diserbuki, yaitu antara 2-3 minggu setelah bunga mekar (Rosario 1991). Tanda bunga yang sudah siap diserbuki ada- lah pada spadiks bunga terjadi sekresi madu (berlendir) dan bila dipegang akan teras a licin atau lengket. Secara visual hal ini dapat dilihat dengan adanya serangga penyerbuk atau semut pada spadiks tersebut. Untuk bunga jantan dipilih bunga yang telah mengeluarkan pollen atau serbuk sari dari spadiks, berwama kuning, dan berbentuk tepung (Gambar 1).  Gbr.1. Bunga betina anthurium siap diserbuki(a)dan bunga anthurium jantan yang sudah mengeluarkan serbuk sari(b)Dengan bantuan kuas atau langsung dengan tangan, pollen ditampung ke dalam cawan petri dan selanjutnya dioleskan pada stigma atau spadiks bunga betina yang telah siap diserbuki. Alur kerja penyilangan anthurium disajikan pada Gambar 2.
Gbr.2. Alur Kerja Penyilangan Anthurium
Penyerbukan dilakukan pada pagi hari pukul 07.00-10.00 saat udara masih segar, dan atau sore hari pukul15.00-l7.00 saat udara kembali dingin. Tanaman yang sudah diserbuki diberi label yang memuat keterangan tentang tetua betina dan tetua jantan, waktu penyilangan (tanggal, bulan dan tahun), dan nama penyilang. Selanjutnya, bunga betina di- kerudungi atau ditutup menggunakan kantong plastik dan dibiarkan tertutup selama 2 minggu.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Waktu Penyerbukan

Jumlah biji yang dihasilkan bervariasi antara 15-393 biji. Dari sembilan pasang persilangan diperoleh 1.308 biji hasil per- silangan. Keberhasilan tertinggi diperoleh pada pasangan persilangan Obake putih x Pink Exotic, diikuti oleh Midori x Pink Exotic, Champion x Laura, dan Lady Jane x Merah Ati masing-masing lebih dari 130 biji. Keberhasilan yang tinggi menunjukkan bahwa pasangan tetua tersebut mempunyai kompatibilitas yang tinggi. Lima pasangan tetua lainnya hanya menghasilkan 15-58 biji (Tabel l).

Berdasarkan kegiatan yang dilaksanakan, peluang ke- berhasilan penyerbukan anthurium cukup tinggi terutama penyerbukan pada pagi hari yang mencapai 90%. Keberhasil- an penyerbukan pada sore hari hanya mencapai 70%. Hal ini terkait erat dengan suhu di rumah kaca yang masih panas. Namun, perbedaan persentase keberhasilan tersebut tidak terlalu j auh, sebesar 20%. Penyerbukan yang berhasil dapat dilihat dari spadiks yang dipenuhi oleh tonjolan-tonjolan kecil bulat berjejal, yang nantinya akan membentuk buah yang disebut buah beries. Penyerbukan yang tidak berhasil ditandai dengan bunga yang akan mengering setelah 2 minggu.

Dari 20 kali penyerbukan pada waktu yang berbeda, yaitu 10 kali pada pagi hari dan 10 kali pada sore hari, dihasilkan 1.308 buah beries (Tabel 2). Keberhasilan pe- nyerbukan tersebut tidak lepas dari persyaratan standar yang harus dipenuhi, seperti bahan tanaman silangan, kebersihan alat-alat yang digunakan serta tidak terkontaminasi bahan lain, serta waktu dan proses penyerbukan.

Pembibitan

Panen Buah

Buah beries yang dihasilkan dari penyilangan akan masak 6- 7 bulan setelah penyerbukan. Buah dapat dipanen setelah lu- nak, berwarna kuning kecokelatan (Rosario 1991) (Gambar 3).

Pemanenan dilakukan seeara manual dengan memetik se- luruh buah yang ada pada spadiks. Apabila buah masak tidak serempak, maka panen dilakukan seeara bertahap dengan mengambil buah yang masak. Buah yang belum masak dibiarkan sampai buah siap dipanen (Lestina 2002).

Penyemaian Biji

Buah yang sudah dipanen dilepaskan dari tongkolnya dan dipisahkan dari kulit buahnya dengan eara dipijit. Karena biji anthurium dilapisi daging buah yang menyerupai lendir, maka biji harus direndam terlebih dahulu. Perendaman dilakukan dengan menggunakan air bersih selama 1 hari atau dalam akuades selama 10 menit (Lestina 2002). Setelah itu, biji dieuci pada air mengalir sambil diremas-remas untuk melepaskan lendimya sampai biji bersih dan terasa kesat.
Selanjutnya disiapkan media persemaian berupa arang sekam dalam pot berdiameter 15 em, kemudian dibasahi atau disiram. Untuk mempertahankan kelembapan, pot diberi alas berupa baki plastik yang diisi air. Biji yang sudah bersih disebar di atas media yang telah disiapkan, kemudian diberi label silangan dan tanggal penyemaian, lalu ditutup dengan kaea transparan. Selang 3 hari, keeambah akan mulai tumbuh, ditandai dengan keluamya akar dengan bulu-bulu halus berwama putih dan diikuti oleh tumbuhnya kuneup daun pada hari ke- 7. Pada umur 14 hari, penutup dibuka dan setelah bibit berumur 30-40 hari, bibit tersebut dipindahkan ke kompot yang berupa bak plastik berukuran 45 em x 35 em yang bagian bawahnya sudah dilubangi dan diisi media arang sekam + kompos bambu halus dengan perbandingan 1 : 1 (Gambar 4). Bibit ditanam denganjarak 2 em x 2 em. Setelah bibit berumur 3-4 bulan, bibit sudah siap untuk ditanam dalam pot atau di lapang.

Pemeliharaan Bibit

Pemeliharaan bibit perlu dilakukan sebaik mungkin, terutama penyiraman dan pemupukannya. Penyiraman dilakukan 1-2 kali sehari sesuai dengan keadaan euaea, terutama harus diperhatikanjangan sampai ada air yang menggenang. Apa bila keadaan cuaca mendung, penyiraman dapat dilakukan cukup 2 hari sekali.
Untuk mempercepat pertumbuhan, perlu dilakukan pe- mupukan. Pemupukan anthurium bergantung pada media yang digunakan, kondisi cahaya, umur tanaman, dan kultivar anthurium (Lestina 2002). Pemupukan dapat menggunakan dua macam pupuk yaitu pupuk daun untuk menyuburkan daun, dan pupuk majemuk untuk memberi nutrisi di daerah perakaran. Takaran yang digunakan untuk pupuk daun adalah 1-1,5 g/1 dengan cara disemprotkan di sekitar daun, dilakukan 1 minggu sekali. Untuk pupuk majemuk NPK, pupuk dilarutkan dalam air dengan takaran 1 g/1 air. Larutan pupuk disiramkan di sekitar akar tanaman dan dilakukan 2 minggu sekali.


KESIMPULAN DAN SARAN

Penyerbukan buatan yang paling baik pada anthurium adalah pada pagi hari antara pukul 07.00-10.00. Dari 20 kali penyerbukan, 10 kali di antaranya dilakukan pada pagi hari, dihasilkan 1.308 (90%) buah beries. Tingkat keberhasilan penyerbukan terkait erat dengan bahan dan alat-alat yang digunakan, waktu, dan proses penyerbukan. Berdasarkan hasil ini maka hibridisasi sebaiknya dilakukan pada pagi hari, agar hasil yang dicapai sesuai dengan tujuan yang diharap- kan, terutama menyangkut jumlah dan kualitas biji hasil silangan.

DAFTAR PUSTAKA

Lestina, M. 2002. Teknik Budidaya Anthurium. Laporan Kegiatan Praktek Umum. Balai Penelitian Tanaman Hias, Cipanas.
Riffle, R.L. 1998. The Tropical Look. An Encyclopedia of
Landscape Plants for Worldwide Use. Thames and Hudson,
Great Britain. London. p.4 8-49.
Rosario, T.L. 1991. Anthuriums. College of Agriculture. University
ofthe Philippines, Los Banos, College, Laguna, Philippines.
p.46.

Rukmana, R. 1997. Anthurium. Kanisius, Yogyakarta. 55 hIm.

Buletin Teknik Pertanian Vol. 9. Nomor 2, 2004

1 Teknisi Litkayasa Pelaksana Lanjutan dan 2 Teknisi Non kelas pada Balai Penelitian Tanaman Hias, Jl. Raya Ciherang, Pacet, Cianjur

Sumber :http://rawabelong.com

Memperbanyak Puring

13.48 Posted In , Edit This 0 Comments »
Puring yang mempunyai batang keras mempunyai karakter yang berbeda dengan tanaman lainnya dengan karakter batang lunak. Bila di sejajarkan maka perbanyakan puring sama dengan tanaman yang sering kita lihat di sekitar kita dan yang paling mudah di dapatkan adalah tanaman buah. Berikut kami berikan dua alternatif tips dan trik perbanyakan puring.

Puring yang saat ini mulai diperhitungkan sebagai tanaman hias yang punya potensi dan penggemar yang luas ternyata mampu melakukan perbanyakan dengan mudah. Dari batang keras yang dimiliki, metode stek dan cangkok menjadi yang paling mudah untuk dilakukan. Selain punya waktu yang relatif singkat hasil perbanyakan juga 100 % sama dengan indukan.
Tanaman hias dengan batang keras seperti halnya puring memang bisa tumbuh dengan mengandalkan penyerubukan alami. Namun butuh waktu yang cukup lama dan juga biji yang dihasilkan tidak bisa stabil kadang banyak dan sedikit. Dan yang utama hasil anakan dari biji punya kemungkinan besar tidak sama dengan indukan
Dari model penyerbukan normal yang butuh waktu lebih lama lama ini sekarang banyak ditinggalkan oleh petani dan juga pengusaha tanaman hias. Pasalnya semakin lama perbanyakan tentu semakin lama keuntungan yang bisa diambil. Jadi cara tercepat dan teraman yang akan diambil dengan model cangkok maupun stek.
Cara kerja stek maupun cangkok sebenarnya adalah menumbuhkan akar sebagai serapan nutrisi pada bagian yang diinginkan. Metode ini hampir semua tanaman yang mempunyai batang keras atau berkayu bisa melakukannya namun dengan karakter yang berbeda.
Agus Choliq Pemilik Krokot Nursery yang mengkoleksi puring mengakui menggunakan metode stek dan cangkok dalam melakukan perbanyakan tanamannya. Sedangkan untuk penyerbukan alami dirinya melakukan hanya untuk proses penyilangan. Harapannya bisa menghasilkan satu jenis baru yang baik. Dengan naiknya pamor puring saat ini otomatis proses perbanyakan harus lebih cepat dan evisien sebagai konsekuensi permintaan pasar yang meningkat.
Puring yang mempunyai batang keras mempunyai karakter yang berbeda dengan tanaman lainnya dengan karakter batang lunak. Bila di sejajarkan maka perbanyakan puring sama dengan tanaman yang sering kita lihat di sekitar kita dan yang paling mudah di dapatkan adalah tanaman buah. Berikut kami berikan dua alternatif tips dan trik perbanyakan puring.
Metode Stek Lebih Cepat
Metode stek merupakan cara yang paling mudah untuk dilakukan sebab tidak perlu persiapan yang panjang selain itu alat yang digunakan juga tidak terlalu rumit.
1. Siapkan peralatan yang terdiri dari gunting tanaman, pisau, plastik penutup, tali plastik, pot dan media tanam.
2. Siapkan media tanam dengan campuran pasir, dengan humus bambu.
3. Pilih batang puring yang sudah terlihat tua untuk dipotong. Cirinya cukup mudah perhatikan kulit bila sudah berwarna cokelat seperti kulit kayu berarti batang sudah siap di stek.
4. Potong dengan menggunakan gunting tanaman yang sudah dibersihkan. Hindari pengunaan pisau sebab batang punya struktur yang keras dan mengandung kayu.
5. Setelah terpisah jangan lupa untuk untuk menutup luka di pohon indukan dengan fungisida.
6. Bila daun terlihat rimbun potong di bagian bawah dengan menyisakan sekitar 5-7 daun. Tujuannya untuk mengurangi penguapan yang harus di jaga selama proses stek.
7. Ikat sisa daun mengarah keatas dan tutup dengan plastik untuk mengurangi penguapan.
8. Rendam potongan bawah dalam larutan perangsang akar sekitar 15-20 menit.
9. Masukkan dalam media tanam dengan urutan stylofoam/gabus bisa juga dengan menggunakan pecahan genting, selanjutnya masukkan pasir hingga setengah pot. Setelah itu masukkan potongan stek.
10. Lapisan atas gunakan campuran pasir dengan humus bambu hingga penuh.
11. Tekan media tanam hingga batang bisa berdiri tegak.
12. Siram media tanam dengan menggunakan sisa air perangsang akar
13. Tempatkan ditempat teduh.
Tanda berhasilnya proses stek bisa dilihat dari kondisi daun selama satu hingga dua minggu. Bila terlihat tetap segar bahkan tumbuh tunas baru berarti stek berhasil dan tutup plastik bisa dilepas. Cara stek ini mempunyai kelebihan cepat dan mudah namun keberhasilan proses ini masih mempunyai keberhasilan hingga 90%. Jadi masih ada kemungkinan 10 persen tidak berhasil.
Untuk meminimalkan kegagalan usahakan saat melakukan pemotongan stek dipastikan pohon dalam keadaan sehat. Selain itu batang juga harus sudah tua supaya pertumbuhan akar bisa maksimal. Yang tak kalah penting adalah untuk menjaga kelembaban dengan menempatkan di tempat yang tidak terkena sinar matahari.
Cara Cangkok Lebih Aman

Cara kedua yang bisa dilakukan adalah dengan cangkok. Cara ini punya keberhasilan lebih besar dari pada model stek sebab akar di rangsang sebelum batang di potong. Namun beberapa nursery menganggap cara ini jauh lebih merepotkan.
1. Pilih batang yang sudah tua dengan warna cokelat. Usahkan batang yang dipilih lebih tua dari metode stek
2. Siapkan pisau tajam, plastik, media tanam, dan tali plastik.
3. Kupas kulit batang sekitar 3-4 cm untuk tempat media tanam cangkok.
4. Masukkan media tanam yang terdiri dari humus daun dan bungkus dengan plastik
5. Lubangi plastik untuk memberikan sirkulasi udara
6. Siram media cangkok untuk menjaga kelembaban tanaman jadi jaga agar tidak kering
7. Bila akar sudah terlihat lepas media tanam dan potong batang.
8. Masukan dalam pot urutan sama dengan model stek.
Metode cangkok ini lebih aman sebab saat dipisah dari indukan batang sudah mempunyai akar sehingga yang harus dijaga adalah kandungan nutrisinya. Namun cangkok memang punya waktu lebih lama dan batang yang dipilih harus lebih tua dari metode stek. (bayu)

Dari : tabloidgallery.wordpress.com .

Menanam Anthurium Yang Baik

13.43 Posted In , Edit This 0 Comments »

Tanaman anthurium termasuk tanaman yang bandel dan tidak manja. Jadi, memiliki dan merawat tanaman anthurium tidak repot. Tanaman ini, misalnya, tak butuh pemangkasan seperti pada tanaman cemara udang. Juga tak terlalu digemari kutu atau hama seperti pada tanaman sikas.

Anthurium juga dikenal sebagai tanaman dari keluarga arracae yang paling mudah beradaptasi dengan lingkungan.

Yang paling penting, jangan abaikan beberapa persyaratan hidup dibawah ini:

A. LOKASI:

Pada dasarnya, di Indonesia, tanaman anthurium dapat beradaptasi dengan baik di segala tempat: baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi. Namun untuk menjamin pertumbuhan anthurium yang bagus, daerah atau lingkungan tumbuh ideal bagi anthurium adalah di dataran menengah (medium) sampai dataran tinggi (antara 600 m – 1.400 m dpl).

B. SUHU:

Anthurium daun tumbuh ideal di dataran sedang yang bersuhu 24—28º C pada siang hari dan 18—21º C pada malam hari. Karena pada suhu tersebut menyebabkan perangsangan produksi klorofil (zat hijau daun) lebih banyak, sehingga warna daunnya menjadi lebih hijau. Namun, tanaman yang gampang perawatannya ini juga dapat beradaptasi dengan baik di daerah dataran rendah yang bersuhu 28—31º C pada siang hari dan 21—25º C pada malam hari.

C. KELEMBABAN:

Kelembapan adalah jumlah kandungan air di udara pada suatu lokasi. Anthurium dapat hidup pada kelembapan cukup tinggi, yakni 60—80%. Kalau kelembapan kurang dari 60%, tanaman akan cepat layu. Sedangkan, jika kelembapan lebih dari 80% akan memicu tumbuhnya jamur pada media sehingga mengancam kesehatan tanaman. Penyiraman pada tanah atau semprotan air yang lembut pada tanaman dapat meningkatkan kelembapan. Untuk mengukur kelembaban, gunakan Higrometer, alat pengukur suhu, yang bisa dibeli di toko2/ apotek di kota anda.

D. SINAR MATAHARI:

Sebagai tanaman yang hidup di daerah menengah dan tinggi, Anthurium tidak tahan terhadap panas matahari langsung. Tanaman anthurium yang menerima sinar matahari secara langsung atau berlebihan akan mengalami dehidrasi: daun-daunnya mongering atau hangus terbakar.

Sebaliknya bila kekurangan cahaya juga dapat mengakibatkan pertumbuhan tanaman terganggu. Misalnya, daun menjadi pucat atau lemas.

Yang ideal, anthurium membutuhkan tempat yang semi teduh (semi naungan). Kira-kira, lingkungan yang menerima sinar matahari dengan intensitas cahaya sekitar 30-60 %.

Jika Anda tinggal di dataran rendah seperti Jakarta, atau Surabaya, sebaiknya menggunakan shading net, yang berukuran 65% atau jika lokasi Anda di dataran menengah bisa menggunakan shading net berukuran 55%.

E. ANGIN DAN SIRKULASI UDARA:

Angin dan sirkulasi udara berkaitan erat dengan hal-hal yang sudah sebut di atas. Dalam kondisi suhu udara meninggi, maupun rendah sirkulasi udara bisa menjaga kestabilan kelembaban.

F. AIR:

Seperti halnya pada tanaman lain, air merupakan unsur penting untuk pembentukan akar, cabang, daun dan bunga. Namun dalam soal air, bagi Anthurium bisa dibilang, “malu-malu tapi mau”. Tepatnya, dia membutuhkan media tanam yang lembab. Penyiraman hanya dilakukan bila media telah kering. Media yang becek tergenang air, tidak bersahabat bagi tanaman ini. Kebanyakan air siraman, bisa membuat anthurium celaka, karena akar anthurium membusuk.

Penyiraman sebaiknya dilakukan dua hari sekali hanya bila cuaca panas atau pada musim kemarau. Tapi bila musim hujan, lihat kondisi dulu. Kalau media masih basah, penyiraman tidak perlu dilakukan.

Kalau bisa, selalu gunakan air yang bersih dan bebas dari pencemaran.

G. MEDIA TANAM:

Media tanam memegang peranan penting bagi pertumbuhan dan kesehatan anthurium.

1. Syarat Media Tanam

Derajat keasaman (pH) media tanam yang ideal bagi anthurium adalah 6—7. Namun, anthurium masih mungkin hidup di media ber-pH 5,5 atau 6,5. Pada pH 7 atau netral, anthurium dapat tumbuh optimal karena ketersediaan unsur hara pada media terpenuhi dan ada jaminan kemampuan akar dalam menyerap nutrisi atau zat hara. Angka pH sangat penting karena berpengaruh pada kandungan unsur hara di media. Media disebut masam (tanda media miskin hara) jika angka pH di atas 7, dan disebut basa jika pH ada di bawah angka 7. Pada kondisi media asam, . umumnya cendawan lebih mudah tumbuh, meski ada juga cendawan yang tumbuh pada media ber-pH netral atau sedikit basa seperti jamur fusarium.

Cara untuk menaikkan pH media tanam, taburkan dolomit secara bertahap. Dolomit mengandung kalsium dan magnesium karbonat. Sebaliknya jika media dianggap terlalu basa, kita bisa menaburkan belerang pada media tanam. Cara yang paling praktis, ganti saja media tanamnya.

Porositas adalah kemampuan media dalam menyerap air. Tingkat porositas tanaman di setiap daerah berbeda-beda. Di daerah dataran rendah yang berudara panas, sehingga tingkat penguapannya tinggi, media harus mampu menahan air sehingga tidak mudah kering. Sedangkan di daerah dataran sedang dan tinggi yang umumnya sering hujan, gunakan media berporositas tinggi atau tidak boleh mengikat air terlampau banyak. Komposisi media yang digunakan sangat menentukan tingkat porositasnya.

Steril artinya media harus terbebas organisme yang dapat menyebabkan penyakit, seperti bakteri, spora, jamur, dan telur siput. Cara melakukannya cukup gampang, ada yang mengukus media tanam, menjemur seharian di terik matahari, menyiram media dengan air panas, ada juga yang merebus pupuk kandang sebelum digunakan. Cara lainnya yang sering dipraktikkan adalah menebarkan Furadan atau Basamine G ke media tanam untuk meracuni semut atau cacing.

2. Jenis dan Komposisi Media Tanam

Bahan organik yang digunakan bisa berupa pupuk kandang, kompos, humus, cincangan pakis, serutan kayu, dan arang. Komposisi media yang digunakan bisa berbeda-beda untuk setiap petani atau nurseri, tergantung pada iklim setempat.

Berikut beberapa variasi komposisi media yang selama ini dianggap ideal.

- Pakis dan Sekam bakar (arang sekam) dengan perbandingan 1 : 4.

- Sekam bakar dan pupuk kandang yang difermentasi dengan perbandingan 1: 1.

- Cacahan pakis dan kadaka (1:1).

- Pakis, humus, dan pupuk kandang (1:1:1).

Fungsi masing-masing komponen media:

· Pakis mempunyai rongga udara yang banyak, membuat akar tanaman bisa berkembang dengan nyaman dan memperoleh air dengan mudah. Pakis dikenal sebagai bahan campuran media yang bisa menyimpan air dalam jumlah cukup, sekligus drainase dan aerasinya mantap. Daya tahannya sebagai bahan media juga baik, yakni tidak mudah lapuk. Sangat layak digunakan di daerah dengan curah hujan tinggi.

· Sekam bakar dianggap memiliki daya serap terhadap air yang sedikit, tetapi aerasi udaranya sangat baik. Sekam disarankan sebagai bahan campuran media, tetapi digunakan sekitar 25% saja, karena dalam jumlah banyak akan mengurangi kemampuan media dalam menyerap air

· Pupuk kandang, baik berupa kotoran unggas atau ternak, atau humus dianggap memiliki kandungan N yang sangat menunjang dalam pembentukan daun, menjadikan daun lebih sehat dan segar serta membentuk sel dan jaringan pada tanaman.

Disarankan, setiap komponen dari media tersebut, disterilkan, guna menjaga tanaman terhindar dari jamur dan bakteri. Sterilisasi yang lazim dilakukan adalah dengan mengukus atau menyiram dengan air panas terlebih dulu pada komponen-komponen tersebut.

(Dikutip dari buku Pesona Anthurium Daun karangan Kurniawan Junaedhie, Penerbit Agromedia Pustaka, Jakarta

by www.toekangkeboen.com